Pemimpin dan Oposisinya

oposisi

Ada diskusi kecil saya dengan seseorang yang saya anggap orang yang bijak. Kami mendiskusikan sebuah kejadian yang tengah terjadi pada sebuah organisasi. Saya cukup ingin tahu dibuatnya, kadang berita dan issue terus berdatangan tanpa kita bertanya. Karena saya berada dekat dengan “area panas” dinamika organisasi tersebut. Dinamika dalam sebuah organisasi ini sering terjadi bahkan harus dijadikan pelajaran penting. Sebuah miniatur pembelajaran dalam ranah negara bagi saya yang awam ini bisa belajar pelan-pelan dari kejadian ini.

Saya pertama bingung dengan kasus bagaimana jika sebuah pemimpin yang terpilih menghadapi pihak yang kontra atau bisa kita sebut “mereka yang memiliki kepentingan”. Mereka akan terus merongrong jika kebijakan kita atau langkah yang ingin kita ambil bisa menghadang atau minimal bergesekan dengan kepentingan mereka. Andai saja mereka mau mengalah jika kepentingan pihak oposisi ini berkurang sedikit pasti tak ada masalah, namun bisa jadi lembar-lembar gugatan mereka di kemudian hari. Tapi kalau masalah ekonomi yang berdampak kurangnya “pemasukan” mereka yang memiliki kepentingan saya rasa mereka akan berjuang vocal dan nyata untuk menurunkan sang pemimpin terpilih itu.

Lawan diskusi saya bilang, cara pertama adalah mengajaknya untuk bersama-sama dalam pemerintahaannya, tapi yang ini dilematis dan rawan juga. Andai memang di ajak atau bahasa umumnya Koalisi, apa bisa selalu sama? padahal dia pun ingin di posisi sang pemimpin. Atau minimal semakin melebarkan usahanya. Bisa jadi cara ini seperti SBY contohnya, di akhir jabatannya semua ngurusin image partai dan saling menjelekkan. Ga bisa kompak, padahal rakyat makin kecewa liat tingkah mereka.

Lalu cara kedua bisa di ambil kalau memang sang pemimpin benar-benar tak mau kompromi, yaitu adalah menghabisinya. Seperti rezim, ya ini agak kejam kedengarannya, tapi pembangunannya pasti, tak ada yang menghalangi. Tapi tunggu dulu, kejam kah? menghabisi cara apa yang paling ampuh? kalau di organisasi ini mereka gagal menghabisinya. Saya lihat di organisasi tempat saya ini gagal karena mereka yang disingkirkan tak sampai akar-akarnya. Dan mereka masih bisa mengusik bahkan memporakporandakan sang pemimpin hingga tak berkutik, walau secara legitimasi masih kuat. Menghilangkan pembuat onar tapi dirinya harus bisa lurus dalam memimpin. Di jaman sekarang, Perdana Mentri Turki, Recep Tayib Erdogan lah yang bisa di contoh, tapi beliau masih perlu perjalanan panjang lagi.

Sikap saya sekarang menyikapi permasalahan tersebut karena posisi bukan siapa-siapa :P akhirnya memilih mengikuti keputusan syuro, karena memang syuro (musyawarah) adalah cara paling sesuai dengan syari’at dan itu lah yang lebih kita percaya ketimbang sistem demokrasi yang masih sering dibanggakan orang. Tapi memang ada beberapa yang saya kurang setuju dengan kebijakan-kebijakan pemimpin baru ini, tapi sebagai orang yang harus mengikuti keputusan syuro yang telah ketuk palu kita harus menerimanya. Biarkan mereka yang bertanggung jawab, dihadapan manusia dan tentu Allah swt sang Maha Adil. Semoga mereka mendapat pelajaran.Karena sikap kita tentu cukup diam sesuai terjemahan hadits ini :

Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya .

(Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

Saya kira begitulah pelajaran yang harus kita ambil, ketika Islam akan memimpin nanti, pasti banyak yang ingin memimpin, mereka yang tak terpilih akan merasa pemimpin yang terpilih banyak kekurangan dan akhirnya kritikan yang tumpul, tajam sampe menusuk bahkan bisa hancur berkeping-keping tergantung hatinya. Disitulah pemimpin sesungguhnya terlihat.

Dan saya ingatkan kembali, hormatilah keputusan syuro, karena itu merupakan cara yang sesuai dengan Islam.

“Katakanlah: “Jika bapak-bapak , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. QS. At-Taubah [9]: 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *