Pandangan Kita tentang Calon Pemimpin

Pengertian Demokrasi

Pengertian DemokrasiDemokrasi menurut saya dibuat bukanlah untuk menyejahterakan rakyat, dia dibuat bukan dengan dasar ingin menyatukan sebuah negara. Kenapa?

Sekali lagi, bahasan saya terkadang menggunakan opini pribadi saya. Namun saya berusaha mencari data pendukung.

Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila. Soekarno telah memaparkannya secara elegan di depan Pemimpin Dunia pada sidang PBB. Berdemokrasi berarti menerima setiap individu menyuarakan pendapatnya, tak melihat suku, golongan, etnis dan agama. Semua menjadi sama di mata demokrasi. Nah, ini pun menjadi masalah serius (atau bisa disebut masalah saja) karena menurut pro demokrasi, antitesa dari Demokrasi adalah diskriminasi. Maka muncul anak kandungnya, sebut saja Anti Diskriminasi.

Anak kandung Demokrasi, selain anti diskriminasi adalah Kesetaraan Gender. Walau masih belum di anggap anak kandung di Indonesia, di negara lain sudah terasa. Di Indonesia masih dianggap sebagai anak tiri, ada yang di terima ada yang anti. Masih belum seragam. Begitu juga Anti Diskriminasi. Dan yang paling menolak adalah kelompok agama. Makanya Amerika sendiri telah menyimpan agamanya, mencabut akarnya, menyisakan kulit dan ampasnya saja.

Amerika sebagai produsen Demokrasi tentu akan mensupport reseller mereka di Indonesia dengan berbagai promo dan media nya. Apalagi Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi suplemen yang membuat para minoritas akan kuat dan kebal hukum. Mereka juga akan terus menjelekkan negara yang tidak menganut demokrasi, mereka selalu beranggapan jika tanpa demokrasi maka otoriter, dan otoriter itu sengsara. Lihat bagaimana mereka menjelekkan Brunei, Arab Saudi dan negara lainnya.

Trus kalau begini, mau jadi apa masyarakatnya? akan berbenturan dengan agama pasti, sulit sekali. Nah muncullah berbagai pandangan masyarakat kita yang akan menjadi dialog panjang dan menguras pikiran dan perdebatan. Tentu mereka ingin pemimpin yang menyejahterakan masyarakatnya, mereka bisa hidup aman, damai tentram. Tapi kita akan terganggu dengan isu SARA jika tidak “Otoriter” dalam beberapa hal, seperti tegas pada aliran sesat, sekte dan ajaran baru. Ketika saya SD setiap pelajaran PPKn, kita disuruh menghafalkan 5 Agama yang diakui di Indonesia. Namun sekarang, sudah bukan lima lagi, bahkan ratusan. Karena Demokrasi tidak membatasi hal itu. Semakin tak jelas rasanya.

Dan akhirnya muncul pro dan kontra. Saya akan membahasnya pada tulisan berikutnya. (bersambung..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *