Forever together

wpid-1358330254493.jpg

 

Sudah jadi rutinitas di tempat kerja saya untuk mengawas Ujian. Bulan Januari 16 di tahun 2013 di Universitas Islam 45 Bekasi adalah saatnya ujian akhir semester. Sebagai staff hampir seluruhnya merasakan yang namanya menjadi pengawas. Bagi saya yang juga masih menjadi mahasiswa di STMIK bani saleh merasa agak malu. Karena saya pribadi masih belum sepenuhnya sendiri dalam mengerjakan soal ujian.

Kalau memang boleh menolak lebih baik tidak perlu saya jadi pengawas, tapi itu terlalu bodoh. Namun ada yang membuat saya merasa kesal kali ini. Setidaknya sudah beberapa kali Ujian saya tidak mengawas jurusan Teknik. Subhanallah.. mereka lebih parah dari jurusan yang lain soal bebalnya. Dan saya kali ini harus mengawas kelas mereka. Tidak ada jaminan semester 1 bisa lugu atau minimal takut dengan pengawas, tapi justru malah melawan.

Saya tanya.. “kenapa tidak sendiri kerjainnya?” Kata mereka dengan PeDe nya “forever together pak.. jadi susah bareng seneng juga bareng” semua saya lihat sangat setuju dan mengatakan dengan lebih Pede dan kali ini serentak “bener pak!” Lho.. bener apa gak sih? Saya heran. Namun saya justru lupa malu saya dan makin ketat menegur yang menyontek dan bandel itu. Sampai waktu habis dan saya bilang “kumpulkan! Waktu habis.” Mereka pontang panting kanan kiri geser bangku cari jawaban. Sudah gaduh bawel pula. Saya tarik soalnya, mereka bilang “yang lain dulu pak!” Ooo tidak bisa.. ini kesempatan saya. “Ayo kumpulkan.. ni udah ada yang kumpulkan. Katanya forever together? Mana?” Sontak mereka yang sudah mengumpulkan memaksa temannya tuk segera memberikan kepada saya lembar ujiannya. Dengan muka kesel dan saya kira mereka kalah akhirnya lembar jawaban bisa saa tarik tepat pada waktunya. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *